<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4160122919374091216</id><updated>2012-02-16T19:04:53.281-08:00</updated><category term='Sosial'/><category term='Foto'/><category term='Media'/><title type='text'>Sultra in Sight</title><subtitle type='html'>Catatan tentang Sulawesi Tenggara</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sultra.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4160122919374091216/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sultra.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>M. Aswan Zanynu</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lq-cjVCGWR0/TU-VjUrz8fI/AAAAAAAAAKk/CpSpGz4J694/s220/CloseUp%2BAttch.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4160122919374091216.post-8538043565030170322</id><published>2008-11-22T00:42:00.000-08:00</published><updated>2008-11-24T00:44:11.540-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Media'/><title type='text'>Hikayat Raksasa Tidur dan Bis Kota</title><content type='html'>&lt;strong&gt;MEDIA massa akan selalu berusaha mencuri perhatian kita. Dengan sukarela atau terpaksa. Dengan sadar atau tidak. Kita dapat saja ‘tersandera’ setiap hari. Sejak mulai bangun hingga tidur kembali. Lepas tangkap dalam genggaman media. Dalam cerita, ada kisah seseorang yang menderita dalam penyanderaan. Dalam cerita pula, ada kisah seseorang yang justru jatuh cinta oleh penyanderanya. Kita kepingin menjadi orang yang kedua: tersandera namun bahagia.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RRI Kendari 20 November lalu melakukan sebuah diskusi untuk mencari formula ‘jatuh cinta’ tadi. Akademisi, praktisi, dan pemerhati dikumpulkan untuk membedah acara Pro 1, Pro 2, dan berita RRI Kendari. Bagi saya ini langkah maju. Publik diperlakukan sebagai manusia yang memiliki telinga. Bukan dilihat sebagai telinga yang menempel di kepala manusia. Dengan formula ini, diharapkan, tidak akan terjadi pengabaian publik terhadap media. Bahkan mereka ingin (dan berterima kasih bila) ‘tersandera’. &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Saya sangat terkesan dengan ungkapan Harianto Adi. RRI tidak ditinggalkan pendengarnya. RRI-lah yang meninggalkan pendengarnya. Harianto Adi adalah nahkoda RRI Kendari. Yang pernah menonton berita TVRI, pasti familiar dengan wajahnya. Dari bincang-bincang kami, rasa-rasanya akan ada perubahan signifikan dalam tubuh RRI Kendari. Setidaknya, visinya menjanjikan hal itu. Lalu mungkin kita akan bertanya: apa pentingnya hal ini diobrolkan? &lt;em&gt;Who care?!&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Jangan lupa, RRI Kendari memiliki peran strategis di Sulawesi Tenggara dengan jaringan dan jangkauan siarannya (&lt;em&gt;coverage area&lt;/em&gt;). Masyarakat di kota maupun kecamatan mungkin saja diterpa oleh media nasional. Namun media itu tidak dapat memenuhi kebutuhan informasi dan hiburan (dengan selera) lokal. Hanya radio yang dapat memainkan peran itu hingga ke pelosok. Menyapa mereka yang buta huruf sekalipun. Dengan potensi ini, sayang sekali kalau tidak diberdayagunakan untuk kepentingan publik. Ibarat raksasa yang sedang tidur, ia harus dibangunkan.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Jika ingin dipersonifikasikan, publik mungkin akan menggambarkan RRI dengan sederet kata yang kurang mengenakkan. Misalnya: tua, kaku, tidak kreatif, konservatif, membosankan, atau pembela pemerintah. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana mengubah citra tadi yang terlanjur menempel dalam kebanyakan kepala orang saat ini. Karena citra ini bermula dari muatan (&lt;em&gt;content&lt;/em&gt;) siaran, maka untuk memperbaikinya pun harus di titik itu. Titik yang menjadi rujukan setiap kepala sebelum mencitra.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Untuk mengubah citra ini, perlu dilakukan fokus (usia) audiens. Itu usul sederhana saya (karena yang mungkin akan tidak sederhana adalah penerapannya, hehehe…). Makin spesifik pendengar yang dibidik, makin mudah pula merumuskan ide, mengemasnya dalam acara yang menarik, serta mengevaluasinya. Pendengar dengan latarbelakang usia, dengan kelas sosial dan gaya hidup beragam, hanya menguras energi dan menciptakan bias yang banyak. RRI mungkin punya niat mulia: ingin melayani semua lapisan masyarakat. Seperti bis kota. Namun itu tidak dapat melawan karakter medium radio yang personal. Karena ia personal, maka dibutuhkan sentuhan (&lt;em&gt;treatment&lt;/em&gt;) personal pula.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Mengapa RRI Kendari terkesan malu-malu untuk membidik pendengar dewasa hingga paruh baya (25 – 45 tahun)? Padahal kecenderungan menunjukkan merekalah yang menjadi pendengar RRI (Pro 1 dan Pro 2). Kalaupun melakukan bedah acara, akan ditemukan kepada merekalah mayoritas acara ditujukan. Dengan fokus audiens, &lt;em&gt;positioning&lt;/em&gt; Pro 1 (menengah ke bawah, bergaya hidup sub-urban/pedesaan) dan Pro 2 (menengah ke atas, gaya hidup urban) dapat lebih dipertajam.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Dalam praktiknya tentu tidak akan semudah memaparkannya dalam sebuah tulisan ringkas. Karena banyak variabel lain yang ikut menentukan keberhasilannya. Mulai dari sumber daya manusia (kualitas dan etos kerjanya), keuangan (pembiayaan program), hingga sejumlah aturan internal di tubuh RRI dan tekanan-tekanan eksternal yang mengelilinginya. Meski demikian, selalu ada ruang yang dapat digunakan untuk berbuat. Bukan begitu?!***&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Inspired by Mas Harianto Adi.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4160122919374091216-8538043565030170322?l=sultra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sultra.blogspot.com/feeds/8538043565030170322/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4160122919374091216&amp;postID=8538043565030170322' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4160122919374091216/posts/default/8538043565030170322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4160122919374091216/posts/default/8538043565030170322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sultra.blogspot.com/2008/11/hikayat-raksasa-tidur-dan-bis-kota.html' title='Hikayat Raksasa Tidur dan Bis Kota'/><author><name>M. Aswan Zanynu</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lq-cjVCGWR0/TU-VjUrz8fI/AAAAAAAAAKk/CpSpGz4J694/s220/CloseUp%2BAttch.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4160122919374091216.post-2749919462695864102</id><published>2008-07-01T20:01:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T16:47:01.004-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Foto'/><title type='text'>Penyerangan FISIP</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_lq-cjVCGWR0/SG2SqZx-bZI/AAAAAAAAABk/26OCXIRHf3w/s1600-h/20080701_Fisip.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5218988800364932498" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_lq-cjVCGWR0/SG2SqZx-bZI/AAAAAAAAABk/26OCXIRHf3w/s400/20080701_Fisip.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; KACA Gedung Aula FISIP Universitas Haluoleo Kendari pecah akibat penyerangan yang dilakukan kelompok orang tidak dikenal pada Senin siang (30/06/2008). Selain gedung fakultas, beberapa kaca di ruang perkuliahan yang berada di tepi jalan juga jadi sasaran lemparan batu. Penyerangan ini merupakan buntut dari kekerasan antarkelompok di luar kampus beberapa hari sebelumnya yang bernuansa etnis. [FOTO: ASWAN]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4160122919374091216-2749919462695864102?l=sultra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sultra.blogspot.com/feeds/2749919462695864102/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4160122919374091216&amp;postID=2749919462695864102' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4160122919374091216/posts/default/2749919462695864102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4160122919374091216/posts/default/2749919462695864102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sultra.blogspot.com/2008/07/penyerangan-fisip.html' title='Penyerangan FISIP'/><author><name>M. Aswan Zanynu</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lq-cjVCGWR0/TU-VjUrz8fI/AAAAAAAAAKk/CpSpGz4J694/s220/CloseUp%2BAttch.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_lq-cjVCGWR0/SG2SqZx-bZI/AAAAAAAAABk/26OCXIRHf3w/s72-c/20080701_Fisip.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4160122919374091216.post-3591013312659419176</id><published>2007-10-24T14:09:00.000-07:00</published><updated>2007-11-24T14:22:30.731-08:00</updated><title type='text'>Pohon dan Buku</title><content type='html'>BULAN Oktober ini, kota Baubau merayakan ulang tahun yang ke-6. Sangat muda. Apalagi kalau kita ingin melihat sejarah bahwa Baubau adalah kota yang menjadi jantung peradaban Buton (Wolio). Dengan skala yang ditarik jauh ke belakang itu, sangat mungkin kita akan menemukan Baubau telah berusia lebih dari 600 tahun. Karena Murhum saja yang menjadi Raja Buton keenam, diperkirakan memulai masa pemerintahannya pada tahun 1491.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari perhitungan 6 tahun atau 600 tahun, tiap orang punya harapan untuk Baubau. Dan sebagai “anak” yang lahir dan menghabiskan separuh awal umur di kota itu, saya berharap dapat menemukan dua “bingkisan” di hari ulang tahun ini. Pertama, pohon. Kedua, buku. Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;POHON&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, di zaman lampau ada pohon “Butu” (barringtonia asiatica) menjadi penanda kota Baubau. Khususnya bagi para pelayar yang sering menyinggahi wilayah ini. Ada versi yang menyebutkan, nama “Buton” (juga) diambil dari nama pohon “Butu”. Namun lebih dari sekedar identitas, Baubau butuh pohon sebagai kado ulang tahun untuk tiga alasan ekologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pohon penting untuk mengokohkan agregat tanah kota dari terjangan longsor. Bila kita memandang kota Baubau dari arah lautan, akan terlihat rumah yang menjadi pemukiman penduduk telah merambah hingga ke perbukitan. Tanpa cengkraman pohon, tanah kota akan labil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dibuktikan dengan terjadinya longsor yang menewaskan sejumlah orang di Kelurahan Bataraguru pada awal tahun ini. Kota membutuhkan pohon sebagai bagian dari sistem pertahanan alamiah dari bencana. Keruh dan makin dangkalnya Kali Baubau (akibat pengikisan tanah yang terjadi di musim hujan) dan meningginya lumpur di delta Kali Baubau, juga menjadi fakta pendukung betapa pohon adalah kado terbaik untuk Kota Baubau saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pohon dibutuhkan untuk menjaga pasokan air bagi seluruh warga. Laju pertumbuhan penduduk Kota Baubau dari tahun 2000–2005 mencapai 4,79 persen (Data BPS 2006). Tertinggi dari seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara. Dengan jumlah penduduk seperti ini, kebutuhan akan air bersih juga akan terkerek naik. Padahal persediaan air tawar di bumi adalah terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir seluruh air yang ada di bumi ini adalah air yang sama sepanjang masa. Ketergantungan kita sangat tinggi pada siklus hidrologis. Yaitu siklus pergerakan air dari bumi ke atmostfir dan sebaliknya. Namun siklus ini tidak berjalan mulus. Salah satu penyebabnya adalah semakin banyaknya permukaan tanah yang tidak tertutupi oleh pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, sedikit air hujan yang dapat meresap ke tanah. Deposit air tanah yang dapat digunakan oleh manusia ikut berkurang. Karena semunya mengalir menuju laut. Pohon dibutuhkan oleh kota untuk menjaga ketersediaan air tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pohon memberi suplai udara segar bagi warga kota. Tidak terhitung pohon yang ditumbangkan karena pembukaan pemukiman penduduk, pendirian ruko atau kantor, serta pelebaran jalan. Sementara suhu bumi terus meningkat dan jumlah kendaraan bermotor terus bertambah. Warga butuh “paru-paru” kota. Pohon, taman, atau hutan kota yang lapang dan asri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal abad ke-16 dan hingga abad ke-19 tercipta karya-karya besar Islam di Kesultanan Buton. Sebagai Kota Pelabuhan, Baubau kala itu berada dalam jalur perdagangan antar-kesultanan di Nusantara. Menjadi tempat transitnya pelayaran dari Aceh, Banten, Mataram, dan Makassar, sebelum sampai ke Ternate. Usaha salin-menyalin kitab hingga penyebaran ide-ide keagamaan dengan sendirinya menjadi bagian yang tak terpisahkan. Kota Baubau turut memberi kontribusi bagi khazanah pengetahuan Islam di Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kota Baubau mengembalikan peran itu? Jika target menjadi produsen ilmu pengetahuan (seperti di masa lampau) terlampau tinggi untuk kita capai, setidaknya Baubau tidak menjadi kota yang jauh tertinggal dari segi ilmu pengetahuan. Sedikitnya kini telah ada lima perguruan tinggi yang menjadi obor ilmu. Tapi nyala “obor” ini tidak akan bertahan lama tanpa perpustakaan yang memadai. Kota Baubau butuh buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar akhir tahun 80-an, di Kota Baubau pernah terdapat sebuah Perpustakaan Umum. Ia menempati beberapa buah ruang di pojok kanan depan Kompleks Kamali. Salah satu sisi jendela perpustakaan tersebut menghadap Pantai Kamali. Meski tanpa lampu penerang yang cukup, tempat tersebut nyaman untuk dijadikan tempat membaca. Apalagi bila angin pantai sesekali berhembus masuk melalui jendela dan ventilasi ruang perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koleksi bukunya lumayan beragam. Ada buku fiksi anak yang terkenal di masa itu. “Petualangan Lima Sekawan” hingga buku seri ilmiah populer tentang antariksa. Ada buku budaya dan sastra seperti antologi puisi Chairil Anwar. Atau novel-novel terjemahan semisal “Dokter Zhivago” karya penulis terkenal Rusia, Boris Pasternak. Ada pula sejumlah buku teks untuk mahasiswa ilmu agama, ilmu sosial dan ilmu alam. Sayangnya, menjelang akhir 90-an, koleksi perpustakaan ini bukannya bertambah. Malah terus berkurang dan akhirnya tutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya Baubau kini memiliki sebuah Perpustakaan Umum. Perpustakaan merupakan investasi jangka panjang pengembangan sumber daya manusia. Di sanalah akan disimpan seluruh khazanah pengetahuan nasional, internasional, serta kearifan lokal Kesultanan Buton. Perpustakaan ini bisa menjadi Pusat Studi dan Pengembangan Budaya. Ia juga dapat menjadi Taman Bacaan yang akan digunakan oleh seluruh warga untuk mengakselarasi pengetahuan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bermimpi, suatu saat nanti Kota Baubau dapat melahirkan penulis, pemikir, atau setidaknya pencinta ilmu pengetahuan. Mereka duduk dan dengan antusias membaca di bawah rimbunya pohon di Taman Kota. Berdiskusi dan meneliti untuk kemanusiaan dan perkembangan peradabannya. Ya, itu mimpi saya dan siapa tahu mimpi kita sama?!***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4160122919374091216-3591013312659419176?l=sultra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sultra.blogspot.com/feeds/3591013312659419176/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4160122919374091216&amp;postID=3591013312659419176' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4160122919374091216/posts/default/3591013312659419176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4160122919374091216/posts/default/3591013312659419176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sultra.blogspot.com/2007/11/pohon-dan-buku.html' title='Pohon dan Buku'/><author><name>M. Aswan Zanynu</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lq-cjVCGWR0/TU-VjUrz8fI/AAAAAAAAAKk/CpSpGz4J694/s220/CloseUp%2BAttch.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
