Rabu, 24 Oktober 2007

Pohon dan Buku

BULAN Oktober ini, kota Baubau merayakan ulang tahun yang ke-6. Sangat muda. Apalagi kalau kita ingin melihat sejarah bahwa Baubau adalah kota yang menjadi jantung peradaban Buton (Wolio). Dengan skala yang ditarik jauh ke belakang itu, sangat mungkin kita akan menemukan Baubau telah berusia lebih dari 600 tahun. Karena Murhum saja yang menjadi Raja Buton keenam, diperkirakan memulai masa pemerintahannya pada tahun 1491.

Terlepas dari perhitungan 6 tahun atau 600 tahun, tiap orang punya harapan untuk Baubau. Dan sebagai “anak” yang lahir dan menghabiskan separuh awal umur di kota itu, saya berharap dapat menemukan dua “bingkisan” di hari ulang tahun ini. Pertama, pohon. Kedua, buku. Mengapa?

POHON

Konon, di zaman lampau ada pohon “Butu” (barringtonia asiatica) menjadi penanda kota Baubau. Khususnya bagi para pelayar yang sering menyinggahi wilayah ini. Ada versi yang menyebutkan, nama “Buton” (juga) diambil dari nama pohon “Butu”. Namun lebih dari sekedar identitas, Baubau butuh pohon sebagai kado ulang tahun untuk tiga alasan ekologis.

Pertama, pohon penting untuk mengokohkan agregat tanah kota dari terjangan longsor. Bila kita memandang kota Baubau dari arah lautan, akan terlihat rumah yang menjadi pemukiman penduduk telah merambah hingga ke perbukitan. Tanpa cengkraman pohon, tanah kota akan labil.

Ini dibuktikan dengan terjadinya longsor yang menewaskan sejumlah orang di Kelurahan Bataraguru pada awal tahun ini. Kota membutuhkan pohon sebagai bagian dari sistem pertahanan alamiah dari bencana. Keruh dan makin dangkalnya Kali Baubau (akibat pengikisan tanah yang terjadi di musim hujan) dan meningginya lumpur di delta Kali Baubau, juga menjadi fakta pendukung betapa pohon adalah kado terbaik untuk Kota Baubau saat ini.

Kedua, pohon dibutuhkan untuk menjaga pasokan air bagi seluruh warga. Laju pertumbuhan penduduk Kota Baubau dari tahun 2000–2005 mencapai 4,79 persen (Data BPS 2006). Tertinggi dari seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara. Dengan jumlah penduduk seperti ini, kebutuhan akan air bersih juga akan terkerek naik. Padahal persediaan air tawar di bumi adalah terbatas.

Hampir seluruh air yang ada di bumi ini adalah air yang sama sepanjang masa. Ketergantungan kita sangat tinggi pada siklus hidrologis. Yaitu siklus pergerakan air dari bumi ke atmostfir dan sebaliknya. Namun siklus ini tidak berjalan mulus. Salah satu penyebabnya adalah semakin banyaknya permukaan tanah yang tidak tertutupi oleh pohon.

Akibatnya, sedikit air hujan yang dapat meresap ke tanah. Deposit air tanah yang dapat digunakan oleh manusia ikut berkurang. Karena semunya mengalir menuju laut. Pohon dibutuhkan oleh kota untuk menjaga ketersediaan air tanah.

Ketiga, pohon memberi suplai udara segar bagi warga kota. Tidak terhitung pohon yang ditumbangkan karena pembukaan pemukiman penduduk, pendirian ruko atau kantor, serta pelebaran jalan. Sementara suhu bumi terus meningkat dan jumlah kendaraan bermotor terus bertambah. Warga butuh “paru-paru” kota. Pohon, taman, atau hutan kota yang lapang dan asri.

BUKU

Sejak awal abad ke-16 dan hingga abad ke-19 tercipta karya-karya besar Islam di Kesultanan Buton. Sebagai Kota Pelabuhan, Baubau kala itu berada dalam jalur perdagangan antar-kesultanan di Nusantara. Menjadi tempat transitnya pelayaran dari Aceh, Banten, Mataram, dan Makassar, sebelum sampai ke Ternate. Usaha salin-menyalin kitab hingga penyebaran ide-ide keagamaan dengan sendirinya menjadi bagian yang tak terpisahkan. Kota Baubau turut memberi kontribusi bagi khazanah pengetahuan Islam di Nusantara.

Bagaimana kota Baubau mengembalikan peran itu? Jika target menjadi produsen ilmu pengetahuan (seperti di masa lampau) terlampau tinggi untuk kita capai, setidaknya Baubau tidak menjadi kota yang jauh tertinggal dari segi ilmu pengetahuan. Sedikitnya kini telah ada lima perguruan tinggi yang menjadi obor ilmu. Tapi nyala “obor” ini tidak akan bertahan lama tanpa perpustakaan yang memadai. Kota Baubau butuh buku.

Sekitar akhir tahun 80-an, di Kota Baubau pernah terdapat sebuah Perpustakaan Umum. Ia menempati beberapa buah ruang di pojok kanan depan Kompleks Kamali. Salah satu sisi jendela perpustakaan tersebut menghadap Pantai Kamali. Meski tanpa lampu penerang yang cukup, tempat tersebut nyaman untuk dijadikan tempat membaca. Apalagi bila angin pantai sesekali berhembus masuk melalui jendela dan ventilasi ruang perpustakaan.

Koleksi bukunya lumayan beragam. Ada buku fiksi anak yang terkenal di masa itu. “Petualangan Lima Sekawan” hingga buku seri ilmiah populer tentang antariksa. Ada buku budaya dan sastra seperti antologi puisi Chairil Anwar. Atau novel-novel terjemahan semisal “Dokter Zhivago” karya penulis terkenal Rusia, Boris Pasternak. Ada pula sejumlah buku teks untuk mahasiswa ilmu agama, ilmu sosial dan ilmu alam. Sayangnya, menjelang akhir 90-an, koleksi perpustakaan ini bukannya bertambah. Malah terus berkurang dan akhirnya tutup.

Sudah saatnya Baubau kini memiliki sebuah Perpustakaan Umum. Perpustakaan merupakan investasi jangka panjang pengembangan sumber daya manusia. Di sanalah akan disimpan seluruh khazanah pengetahuan nasional, internasional, serta kearifan lokal Kesultanan Buton. Perpustakaan ini bisa menjadi Pusat Studi dan Pengembangan Budaya. Ia juga dapat menjadi Taman Bacaan yang akan digunakan oleh seluruh warga untuk mengakselarasi pengetahuan mereka.

Saya bermimpi, suatu saat nanti Kota Baubau dapat melahirkan penulis, pemikir, atau setidaknya pencinta ilmu pengetahuan. Mereka duduk dan dengan antusias membaca di bawah rimbunya pohon di Taman Kota. Berdiskusi dan meneliti untuk kemanusiaan dan perkembangan peradabannya. Ya, itu mimpi saya dan siapa tahu mimpi kita sama?!***

2 komentar:

Unknown mengatakan...

mimpi kita sama....
sukses bau-bau

Aswan Z mengatakan...

Trima kasih! Mas' Amin punya alamat weblog yang bisa saya kunjungi?